Photobucket Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Pada suatu hari, Rasulullah saw. muncul di antara kaum muslimin. Lalu datang seorang laki-laki dan bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Iman itu? Rasulullah saw. menjawab: Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, rasul-rasul-Nya dan kepada hari berbangkit. Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? Rasulullah saw. menjawab: Islam adalah engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, mendirikan salat fardu, menunaikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Ramadan. Orang itu kembali bertanya: Wahai Rasulullah, apakah Ihsan itu? Rasulullah saw. menjawab: Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu. Orang itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah, kapankah hari kiamat itu? Rasulullah saw. menjawab: Orang yang ditanya mengenai masalah ini tidak lebih tahu dari orang yang bertanya. Tetapi akan aku ceritakan tanda-tandanya; Apabila budak perempuan melahirkan anak tuannya, maka itulah satu di antara tandanya. Apabila orang yang miskin papa menjadi pemimpin manusia, maka itu tarmasuk di antara tandanya. Apabila para penggembala domba saling bermegah-megahan dengan gedung. Itulah sebagian dari tanda-tandanya yang lima, yang hanya diketahui oleh Allah. Kemudian Rasulullah saw. membaca firman Allah Taala: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Kemudian orang itu berlalu, maka Rasulullah saw. bersabda: Panggillah ia kembali! Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat seorang pun. Rasulullah saw. bersabda: Ia adalah Jibril, ia datang untuk mengajarkan manusia masalah agama mereka. (Shahih Muslim No.10)
widgets

Wednesday, February 26, 2014

CAMERON HIGHLANDS























Wednesday, February 5, 2014

Jangan Ucapkan Ini kepada Anak Anda!


Jangan Ucapkan Ini kepada Anak Anda!

clker.com
clker.com
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ [رواه البخاري ومسلم]
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu,sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” [HR. Bukhari dan Muslim]
Seseorang yang menjaga lisannya tidak berkata kecuali perkataan yang baik, ucapan yang haq, adil, dan jujur.
Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata : Jika engkau akan berbicara berfikirlah (terlebih dahulu). Jika nampak bahwa tidak ada bahaya (mudharat), maka berbicaralah. Jika padanya ada mudharat atau ragu, tahanlah (tidak berbicara) (Syarh Shohih Muslim lin Nawawy (2/19)
Sahabat Nabi Abud Darda’ radhiyallaahu ‘anhu berkata: Sesungguhnya dijadikan untukmu 2 telinga dan 1 mulut agar engkau lebih banyak mendengar dibandingkan berbicara (Mukhtashar Minhajul Qoshidin karya Ibnu Qudamah (3/24)) [http://www.salafy.or.id/ucapan-ucapan-yang-baik-memuliakan-tamu-dan-tetangga/]
Terlebih lagi orang tua terhadap anaknya. Memang, tak selamanya perilaku anak menyenangkan orang tua. Dari sekian sikap sang anak, ada saja diantaranya yang menjengkelkan orang tua. Keadaan ini semakin diperparah dengan keadaan sikap mental orang tua yang mudah terpancing situasi. Keadaannya bisa semakin runyam manakala orang tua dalam keadaan psikis tertekan (stress), lelah, penat dan tengah banyak menghadapi banyak masalah. Dalam kondisi semacam ini tingkat pengendalian orang tua menjadi melemah. Mudah marah, mengeluarkan kata-kata tak baik dan tindakan-tindakan tak terukur kerap muncul. Anak pun menjadi sasaran. Pelampiasan dihempaskan kepada sang anak akibat dari suasana hati, pikiran dan masalah yang mengakumulasi. Nas’alulllaha as-salaamah (Kita memohon kepada Allah keselamatan dari hal itu).
Perkataan orang tua bisa berarti doa, setidaknya berdasarkan hadits:
“Janganlah kalian ucapkan kata (doa), kecuali yang baik. Karena sesungguhnya para malaikat mengaminkan apa yang kalian ucapkan.” (HR. Muslim dari Ummul-mukminin Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha) (http://www.salafy.or.id/memperhatikan-pendidikan-anak-3/)
Oleh karena itu, orang tua wajib berhati-hati dalam berucap kepada anaknya, karena doa orang tua kepada anaknya, mustajab, diantaranya berdasarkan hadits:
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ
Tidak doa yang tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa seorang musafir.” (HR. Al Baihaqi dalamSunan Al Kubro. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 1797).
Muhammad bin Isma’il Al Bukhari membawakan dalam kitab Al Adabul Mufrod beberapa riwayat mengenai doa orang tua. Di antara riwayat tersebut adalah: Abu Hurairah berkata, ”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدَيْنِ عَلىَ وَلَدِهِمَا
“Ada tiga jenis doa yang mustajab (terkabul), tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian dan doa kejelekan kedua orang tua kepada anaknya.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrod no. 32. Dikatakan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrod no. 24). Hadits ini menunjukkan bahwa doa jelek orang tua pada anaknya termasuk doa yang mustajab. Hal itu dibuktikan dalam kisah Juraij (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrod no. 33. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrod no. 25)
Ini adalah pelajaran yang mesti diketahui setiap orang tua. Doa mereka sungguh ajaib jika itu ditujukan pada anak-anak mereka. Jika ortu ingin anaknya menjadi sholeh dan baik, maka doakanlah mereka karena doa ortu adalah doa yang mudah diijabahi. Namun ingat sebenarnya doa yang dimaksudkan di sini mencakup doa baik dan buruk dari orang tua pada anaknya. Jika ortu mendoakan jelek pada anaknya, maka itu pun akan terkabulkan. Sehingga ortu mesti hati-hati dalam mendoakan anak. (http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3416-doa-orang-tua-pada-anaknya-doa-mustajab.html) selengkapnya baca situs ini.

Sebagai aplikasi dalam kehidupan sehari-hari, berikut ini saya bawakan contoh-contoh ucapan orang tua kepada yang selayaknya dihindari beserta koreksinya.
No
Salah
Benar
1
Ketika sedang marah mengucapkan: “ semoga Alloh memberimu musibah atas kenakalanmu”Ucapan orang tua mustajab. Ucapkan: “semoga Alloh memberimu petunjuk”
2
“Ngapain  membuang-buang waktu bermain bersama keluarga”“Pendidikan apa yang bisa aku selipkan dalam permainan kali ini”
3
“Jika kau tidak mau melakukan ini, bapak pukul”“Jika engkau mau melakukan ini, abi akan memberikan hadiah / menciummu”
4
“Siapa yang mengerjakan begini, berarti ingin dipukul /diusir keluar rumah / disekap dalam kamar / masuk neraka“Seorang muslim yang beradab pasti tidak melakukan hal itu, biar masuk surga. Kalo kamu benar-benar bisa menghindarinya, nanti abi beri hadiah”
5
“Dasar dungu / bodoh / bego, tidak mau mendengar kata-kata bapakmu”“Anak yang baik mau mendengar kata-kata bapaknya”
6
“Nanti bapak bilangin kenakalanmu pada paman, bibi, dan saudara-saudaramu”“Kalau kamu soleh, nanti abi puji dihadapan paman, bibi, dan saudara-saudaramu”
7
“Cepat tidur!”“Sebelum tidur, baca doa dulu ya, sini abi ajarin”
8
“Berantakan sekali rumahnya, ini kamar orang apa kandang kambing!”Katakanlah dengan lemah lembut: “ayo anak rajin, kita rapikan kamarnya bersama-sama”. “Alloh itu indah dan menyukai keindahan.”
9
“Malas sekali, lihat gigimu yang kotor!”Katakanlah: “abi/ummi senang kalau melihat gigimu putih dan bersih”
10
Ketika mengangis, Anda berkata kepada anak Anda: “diamlah, nanti digondol / dimakan hantu lagi, hiiii….”“Diam ya anak sholih, kalo berisik kan mengganggu tetangga, tidak boleh lho sama Alloh”
11
Ketika dibantu anak, tidak mendoakan kebaikan“Jazakallohu khoiron / Barokallohu fiika”
12
“Selamat pagi / siang”“Assalamu’alaikum”
13
“Hajar saja orang yang nakal kepadamu”“Sabar ya, ucapkan saja kepadanya, semoga Alloh menunjukimu”. [Tapi tetap mengajarkan kepada anak (ilmu dan beladiri, jika mampu) untuk tidak takut dengan siapa pun jika dia berada dalam kebenaran]
14
“Anak kurang ajar / tidak tahu adab”“Kemarilah nak, jika salah, mintalah maaf kepadanya”
15
“Dasar maling /pencuri”“Ini bukan milikmu, kembalikanlah kepada pemiliknya”
16
“Hai anak kecil ambilkan itu” (dengan intonasi merendahkan)“Hai nak (fulan), tolong diambilin itu ya. Jazakallohu khoiron / Barokallohu fiika” (dengan lemah lembut)
17
Ketika anak jatuh: “rasakan”; “dasar cengeng”“Gak apa-apa, Alloh sudah menakdirkan apa yang Dia kehendaki”
18
“Tidak boleh bermain di luar”“Boleh main, tapi sampai jam …, setelah itu mandi dan belajar ya”
19
 “Jangan menggambar disitu / mencoret-coret dinding”Hal ini bisa mematikan bakat anak. Tetapi katakanlah: “mari menggambar di buku gambar bareng abi/ummi”
20
“Kalau ingin makan ya makan, kalo tidak mau ya terserah, biar sakit nanti”“Makan ya nak biar kuat, seorang mukmin yang kuat lebih baik dan disenangi Alloh daripada mukmin yang lemah”
21
“Bapak sedang sibuk, makan sendiri sana”“Mari makan bersama-sama, agar lebih berkah”
22
“Jangan pernah makan coklat lagi, merusak gigi, kalau sampai makan lagi, nanti bapak hukum!”Katakan saja: “boleh makan coklat 1 kali sehari, tapi setelah itu gosok gigi ya!”
23
“Bangun, dasar pemalas”. “Segera persiapkan untuk sekolahmu” (tanpa mengajak ke masjid untuk sholat shubuh berjama’ah bagi anak laki-laki)“Ayo bangun, mari berdoa bangun tidur”. “Hari ini di sekolah ada pelajaran olahraga / kesenian kan” (sesuatu yang disukai anak). “Mari ke masjid, sholat shubuh berjamaah dulu” (bagi anak laki-laki)
24
 “Belajarlah, jangan jadi anak bodoh”“Belajar ya nak, biar pintar dan menjadi rangking 1”
25
“Segera bangun dan persiapkan untuk sekolahmu!” (tanpa menyuruh sholat Shubuh terlebih dahulu)“Bangun, segera wudhu dan sholat Shubuh dahulu sebelum mempersiapkan sekolahmu”
26
“Ayo sholat, nanti masuk neraka!”Katakan saja: “ayo sholat biar nanti masuk surga bareng-bareng”
27
“Siapa gurumu yang berkata dan berbuat demikian, dasar tidak becus” (ketika anak melaporkan kesalahan gurunya)“Hormatilah gurumu, karena mereka adalah orang tuamu juga. Jika perlu, abi akan berkonsultasi dengan gurumu terkait masalah ini.”
28
“Jangan bercerita apapun, kepala Bapak sedang pusing”“Berceritalah hal yang menarik” (sambil mengajarkan faedahnya)
29
“Cukup pelajari pelajaranmu saja, jangan menoleh kepada pelajaran lainnya”“Selama hal tersebut bermenfaat, silahkan belajar yang lainnya” (untuk refreshing)
30
“Jangan membaca keras-keras, berisik!”Padahal minat membaca (apalagi Al-Qur’an) perlu ditumbuh-kembangkan. Katakan saja: “membacanya yang lembut ya, biar terdengar lebih enak”
31
“Kamu selalu ceroboh, nakal, dan tidak beradab”“Anak sholih jangan begitu. Rosululloh tidak mengajarkan perbuatan seperti itu. Alloh pun tidak akan ridho”
32
(Mengucapkan kepada anak laki-laki) “Kamu tidak berkepribadian, seperti wanita / banci”“Laki-laki sejati tidak akan berbuat seperti itu, menyalahi fitroh”
33
“Akhlakmu benar-benar jelek, kau tidak mempunyai kebaikan sedikit pun”“Akhlaknya diperbaiki ya nak. Abi suka dengan anak yang sholih” (sambil mengusap kepalanya atau menciumnya)
34
“Fulan lebih baik darimu, dia bisa berbuat ini dan itu!”“Yang bagus itu sebaiknya begini, kamu insyaAlloh bisa melebihinya jika kamu melakukan ini dan itu”
35
“Bapak akan bertanya tentang tugasmu selesai sholat, apakah sudah selesai atau belum!”(Padahal tidak ada yang lebih penting daripada sholat) “Mari sholat dulu, setelah itu kerjakanlah tugasmu”
36
“Apakah kamu tidak mendengar adzan, cepetan, kalo tidak, bapak tinggal”[Padahal seharusnya berangkat bersama-sama, kalau tidak, bisa jadi anak (khusus laki-laki) malas ke masjid] “Ketika abi memerintahkan untuk siap-siap dan terdengar adzan, berarti kamu harus berwudhu dan berpakaian rapi ya” (sambil menunggu dan berangkat bersama-sama)
37
“Asal kamu ranking 1, pasti gurumu senang, tidak usah dipedulikan sikapmu kepadanya”“Ucapkanlah salam dan bersikap santun ketika berjumpa gurumu”
38
“Terserah kamu mau membaca apa saja yang kamu sukai”“Hargailah waktu, jangan membaca cerita-cerita fiksi / komik / novel (bacaan yang tidak bermanfaat), bacalah siroh (biografi) Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, dan orang-orang sholih
39
“Kamu bebas menggunakan waktumu, yang     penting jangan mengganggu kesibukan bapakmu”“Bagilah waktumu untuk belajar, bermain, beribadah, dan menghafal Al-Qur’an.” (bantulah dia dengan memberikan jadwal harian)
40
“Main terus, mau jadi orang goblok apa!”Katakanlah: “mari belajar dulu, boleh main lagi kalo sudah belajar”
41
Tidak perhatian dengan menanyakan sekolah anak“Bagaimana keadaanmu di sekolah bersama guru dan murid lainnya”
42
“Siang untuk belajar (padahal sdah di rumah), jangan tidur”“Tidur siang merupakan sunnah Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam, tidurlah, tapi jangan melewati waktu ‘ashar.”
43
Menggunakan kata “jangan” untuk sesuatu hal yang rahasia, misalnya: “jangan membuka lemari ini”Hindari kata “jangan”, malah bikin penasaran
Disadur dari buku: “Metode Pendidikan Anak Muslim Usia Prasekolah”, jilid 1, hal. 78 s.d. 81, dan “Metode Pendidikan Anak Muslim Usia Sekolah”, jilid 2, hal. 113 s.d. 117, keduanya karya Abu Amr Ahmad Sulaiman, penerbit Darul Haq, judul asli: Minhajuth Thiflul Muslim fii Dhou’il Kitab was Sunnah, dengan perubahan (pengurangan dan penambahan) oleh Abu Muhammad dan mengambil faidah dari ceramah Al-Ustadz DR. Ali Musri Semjan Putra di Masjid Imam Asy-Syafi’i, Plaju, Palembang, 10 Februari 2013, berjudul “Pendidikan Anak dalam Islam”.

Penutup
Doakanlah anak. Kala sepertiga malam terakhir, saat banyak manusia lelap tertidur, hening, hati dan pikiran pun masih terasa bening, panjatkanlah doa kebaikan bagi sang buah hati. Mohonkan kepada Yang Maha Tahu dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Doakan ia menjadi anak yang shalih. Anak nan penuh bakti kepada kedua orang tuanya. Anak yang senantiasa memberi kebaikan kepada segenap manusia. Doakan ia menjadi pengamal dan pengawal dakwah tauhid. Doakan ia menjadi orang yang senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mencintai dan menghidupkan sunnah-sunnah Rasul-Nya. Doakan ia di kala sujud dan kala waktu-waktu dan (di) tempat-tempat dikabulkannya doa.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Ya Rabb-ku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.” (Ash-Shaffaat: 100) (http://www.salafy.or.id/memperhatikan-pendidikan-anak-3/)
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)
رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ
Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim: 35) (Doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam )
 رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqan: 74) [Doanya  ‘ibaadurrahman (hamba Allah)]
Semoga Allah memperkenankan doa kita sebagai orang tua yang berisi kebaikan kepada anak-anak kita. Semoga anak-anak kita berada dalam kebaikan dan terus berada dalam bimbingan Allah di jalan yang lurus. Jika kita sebagai anak, janganlah sampai durhaka pada orang tua. Banyak-banyaklah berbuat baik pada mereka, sehingga kita pun akan didoakan oleh bapak dan ibu kita. (http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3416-doa-orang-tua-pada-anaknya-doa-mustajab.html)
Sesungguhnya Allah Maha mendengar dan mengabulkan doa hamba-Nya.
Wallohu a’lam. Semoga Sholawat dan Salam selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat.

Abu Muhammad
Palembang, 17 Robi’ul Akhir 1434 H / 27 Februari 2013

Monday, February 3, 2014

79 Kesalahan Mendidik Anak Usia Pra-Sekolah dan Usia Sekolah (2)


Kesalahan Mendidik Anak Usia Sekolah
No
Kesalahan
Seharusnya
1
Tidak memperhatikan tauhid anakAnak usia sekolah bisa diajarkan mengenai rukun iman dan islam dengan lebih mendetail
2
Tidak memperhatikan ibadah anakAnak usia pra-sekolah bisa diajarkan tata cara wudhu, sholat, dan puasa yang benar sesuai contoh Nabi dengan menyuruh praktik secara langsung
3
Membiarkan anak suka jajan makananMembekali anak ke sekolah dengan makanan buatan sendiri yang higienis
4
Mengizinkan untuk tidak sarapan pagiPenting untuk memperhatikan menu makan pagi bagi anak
5
Membiarkan anak untuk hanya memakan makanan yang disukainya sajaMengajarkan kapan, bagaimana, dan apa yang dimakan dengan tetap memberikan kebebasan memilih makanan
6
Tidak memperhatikan pada hari-hari pertama masuk sekolah, bertindak keras dan memaksanyaMemperhatikan dan membuatnya suka dengan sekolah
7
Tidak memperhatikan hubungan antara rumah, sekolah, dan guru, serta tidak pernah mengunjunginya saat di sekolahDekat kepada anak dan gurunya, serta terkadang mengunjunginya saat di sekolah sebagai wujud perhatian kepadanya
8
Memberikan teguran keras terus-menerus dan membuatnya menangis karena tidak memperhatikan pelajaran di sekolahTerus memotivasi anak untuk belajar
9
Membanting/melempar buku saat anak tidak pahamPadahal seharusnya malah diberi motivasi
10
Mengerjakan pekerjaan rumah (PR) anak dan memanjakannyaMengarahkan anak dalam belajar dan mengerjakan PR (anak harus mandiri mengerjakannya)
11
Membiarkan anak belajar sendiriTemanilah saat belajar. Bimbinglah, sembari melihat perkembangan anak
12
Menyamaratakan dalam metode mengajar anakMemperhatikan kondisi setiap anak. Sayang dan berhati-hati dalam memberikan pemahaman ilmiah
13
Tidak mengindahkan acara pertemuan wali muridHadir, bertatap muka dengan guru, dan menanyakan perkembangan anak
14
Liburan tanpa kesan pendidikanPilihlah liburan yang bermanfaat, yang dapat diambil faidahnya
15
Mencela cara berbicara dan bahasa anak secara terus-menerus, walaupun bercandaMemberikan kebebasan berekspresi sepanjang masih dalam koridor syariat
16
Tidak menanamkam kegemaran membacaMenanamkan kegemaran membaca dengan memberikan keteladanan, nasihat, dan buku-buku menarik yang bermanfaat
17
Membiarkan anak membaca cerita fiksi, novel, komik, dan bacaan tidak berguna lainnyaMengalihkan ke bacaan-bacaan yang bermanfaat seperti siroh Nabi dan orang-orang sholih
18
Sangat membatasai pergaulan anak dan mengungkungnya dalam rumahMemperluar arena interaksi dengan dunia luar yang menyebabkan pengalaman kehidupan anak bertambah selama tidak membahayakan diri dan agamanya
19
Tidak menyukai anak dengan menganggapnya sebagai musibah dan aib dengan terus-menerus mengejek perkataam dan perbuatannyaMemberikan persepsi kepada anak bahwa dia disukai, menyayangi anak dan menganggapnya sebagai amanah dan karunia
20
Tidak memberikan keteladanan, membiarkan “kurang ajar”Membiarkan keteladanan dalam akhlak dan ibadah
21
Menakuti dengan jin / hantuMenanamkan keberanian dan memberikan penjelasan bahwa takut dengan jin / hantu termasuk kesyirikan karena jin / hantu tersebut tidak dapat memberikan kemudhorotan tanpa izin Alloh
22
Hanya sekedar mengobati anak yang cacat, tidak memberikan motivasiSelain mengobati juga memotivasi (membesarkan hatinya) dan mengembangkan bakat lainnya
23
Membatasi kebebasan dalam mengembangkan bakatMemberikan kebebasan kepada anak dalam mengembangkan dan menunjukkan bakatnya selama masih berada dalam koridor syariat
24
Keras dalam mendidik kedisiplinan (militerisme)Mengedepankan kasih sayang dan kelemah-lembutan
25
Membandingkanya dengan anak yang mempunyai kemampuan lebih dan terus mengejeknyaMenanamkan keyakinan bahwa anak anda bisa melebihi mereka yang mempunyai kemampuan lebih
26
Selalu memarahi dan menuduh atas perilaku yang dilakukan anakKedepankanlah kasih sayang dan carilah penyebabnya terlebih dahulu
27
Memanjakan anakMenumbuhkan kemandirian (berdikari) anak
28
Membiarkan ke-egoisan anakAjarilah pentingnya menghormati hak orang lain
29
Menyerahkan urusan kebersihan kamar kepada pembantu dan membiarkan anak tidak mandiTanamkan kemandirian dalam membersihkan diri sendiri dan lingkungan rumah
30
Tidak mau diajak bermainLuangkanlah waktu untuk bermain, walaupun sebentar
31
Tidak pernah mengasah otak anak dengan mengambil ibroh dari berbagai kejadianMengambil hikmah dari suatu kejadian penting juga akan mengasah kepekaan sosial anak
32
Bangga dengan ketakutan anak pada orang tuanyaAnak yang bahagia, tenang, dan tentram lebih mudah untuk menerima pelajaran apapun
33
Berlebihan mencela kesalahan guruJangan berlebihan mengritik kesalahan guru. Guru juga termasuk orang tua yang wajib dihormati
34
Menyebutkan aib-aib guruDi samping ghibah, hal tersebut akan menjatuhkan kharisma guru. Sebutlah kebaikannya
35
Menganggap anak yang bertanya terus sebagai pengganggu, berisik, dan “bawel”Anak sering bertanya merupakan perkara lumrah dan bahkan menandakan anak yang cerdas. Orang tua semestinya menjawabnya dengan jawaban ilmiah dan memuaskan, sehingga lebih membangkitkan keinginan anak untuk belajar dan mencari tahu
36
Membiarkan anak menonton hal-hal yang tidak mudhorot di TVTidak menghadirkan TV di rumah, mengalihkannya dengan pelajaran ilmu agama yang bermanfaat dari Al-Qur’an dan Sunnah. Ajarkan juga cara memanfaatkan waktu dengan baik dengan keteladanan para salafush sholih
37
Tidak menyuruh sholat pada umur 7 tahun dan tidak memukulnya pada umur 10 tahun jika masih tidak mau mengerjakan sholat (HR. Abu Daud dan Ahmad). Tidak pernah mengajak sholat berjamaah di masjidSuruhlah sholat pada umur 7 tahun dan pukullah jika masih tidak mau mengerjakannya pada umur 10 tahun. Jika anak dapat tenang di masjid, ajaklah anak untuk ikut sholat berjamaah di masjid.
38
Membiarkan anak mengakhirkan waktu sholatAjarilah untuk disiplin atas kewajibannya
39
Tidak pernah mengajarkan/ menyuruh menghafal Al-Qur’an dan haditsHafalan Al-Qur’an dan hadits (bisa dimulai dengan arba’in nawawiyah) harus dimulai sejak dini
40
Tidak tahu adab dan akhlak rosulullohOrang tua harus berilmu terlebih dahulu sebelum mengajarkan adab dan akhlak yang benar
41

Hanya mengajari masalah fikih (misalnya wudhu dan sholat) dengan lisanPraktikanlah secara langsung dan tuntunlah secara detail
42
Tidak pernah memberikan hadiah / penghargaan kepada anak atas prestasi tertentuMemberikan hadiah harian / mingguan / bulanan / tahunan akan lebih memotivasi, walaupun sedikit
43
Tidak pernah menghukum anak atas kesalahan yang diperbuatnyaMenghukum dengan hukuman yang sesuai dan tidak terus-menerus membuat anak mau mengakui kesalahan dan jera
44
Cerita dan keluhan anak di sekolah dianggap mengganggu dan membuang waktuDengarkanlah ceritanya sambil menasihati kebaikan
45
Membiarkan anak mencari jati dirinya sendiri setelah ABG/dewasaMasa dewasa sangat rawan terbawa arus, arahkan, ajak bermusyawarah atas perbuatan baik.
46
Membiarkan anak hobi musik, bahkan menghafal syair-syairnyaMusik diharamkan (HR. Bukhori), karena itu harus dijauhkan dari anak-anak. Sibukkanlah dengan menghafal Al-Qur’an dan hadits. Lagu dan musik merupakan seruling setan yang memiliki andil besar dalam merusak akhlak dan jiwa anak.

Disadur dari buku: “Metode Pendidikan Anak Muslim Usia Prasekolah”, jilid 1, hal. 72 s.d. 77, dan “Metode Pendidikan Anak Muslim Usia Sekolah”, jilid 2, hal. 104 s.d 112, keduanya karya Abu Amr Ahmad Sulaiman, penerbit Darul Haq, judul asli: Minhajuth Thiflul Muslim fii Dhou’il Kitab was Sunnah, dengan perubahan (pengurangan dan penambahan) oleh Abu Muhammad dan mengambil faidah dari ceramah Al-Ustadz DR. Ali Musri Semjan Putra di Masjid Imam Asy-Syafi’i, Plaju, Palembang, 10 Februari 2013, berjudul “Pendidikan Anak dalam Islam”.

Penutup
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً
”Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan Jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Furqon: 74)
Wallohu a’lam. Semoga Sholawat dan Salam selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat.

Abu Muhammad
Palembang, 11 Robi’uts Tsani 1434 H / 21 Februari 2013